Sabtu, 31 Maret 2012

AIR PENYAMBUNG REZEKI

Di seberang sana, ada ratusan hektar lahan yang dulunya adalah sawah dan kini sebagian telah berubah menjadi kebun kelapa sawit. Awal agustus setiap tahunnya, ratusan orang hilir mudik menyeberangi hilir sungai bilah, dengan transportasi boat berkapasitas 25 -30 orang penumpang.Mereka adalah para petani yang sampai saat ini masih mempertahankan lahannya sebagai lahan bertanaman padi dan mereka adalah orang orang yang konsisten menggantungkan hidupnya pada ketersediaan air. Baik air di areal persawahan mereka, juga air di hilir sungai bilah yang semakin hari kian dangkal.
selain para petani padi, hilir sungai bilah ini juga menjadi satu satunya akses terdekat yang menghantarkan hasil pertanian berupa kelapa, kelapa sawit dan aneka hasil pertanian lainnya dari seberang jawi jawi, untuk kemudian dipasarkan keluar daerah. Tatkala air kian surut, tangkahan kian lapuk, masyarakat pesisir disini tak kunjung mendapat tawaran mau melalui jalur yang mana. masih saja mempertaruhkan jalan rezeki mereka melalui arus hilir sungai bilah ini.

Kamis, 29 Maret 2012

IRIGASI BURUK, SAWAH BERUBAH FUNGSI JADI KEBUN SAWIT


Ratusan  hektar sawah yang beberapa tahun lalu menghampar hijau di areal pertanian Desa Meranti Paham, Desa Tanjung Sarang Elang dan Desa Sei jawi jawi, Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, kini tak lagi terlihat. Terpuruknya harga gabah dari tahun ke tahun di tingkat petani, diduga sebagai salah satu penyebab pupusnya minat petani untuk terus menanami lahan sawah tadah hujannya dengan tanaman padi. Kondisi sawah tadah hujan,  yang hanya dapat diolah setahun sekali sebagai lahan penanaman padi  ini semakin diperparah dengan tidak adanya pembangunan sarana irigasi yang baik dari pemerintah.
Dari tahun ketahun selalu saja ada proyek pembangunan sarana irigasi, baik berupa pembangunan saluran primer, saluran skunder maupun  sekat air, namun pembangunan tersebut kerap tidak menolong sama sekali bagi usaha pertanian masyarakat. Hal ini disebabkan karena Pembangunan yang diduga asal-asalan, asal buat dan asal jadi.

Pono, 43 tahun, Petani asal Desa Meranti paham menuturkan bahwa sejak empat tahun lalu dia telah Merubah sawahnya menjadi kebun kelapa sawit. Masih menurutnya, Berkebun kelapa sawit jauh lebih menguntungkan jika dibanding dengan bertanam padi. “ Karena ketersediaan air yang tak bisa dipastikan, kami sering gagal panen kalau bertanam padi, tapi kalau kelapa sawit, kami bisa panen sebulan dua kali “ ucapnya.

Kepala Desa Meranti Paham, S. Sopiyan, membenarkan adanya pengalihan fungsi lahan dari lahan pertanian padi menjadi perkebunan kelapa sawit di desanya. “ Kita selalu sarankan kepada warga untuk tidak merubah fungsi lahannya, tapi kita bisa memaksa mereka untuk bertahan bertanam padi, karena dalam perhitungan ekonomi warga, mereka lebih untung jika bertanam kelapa sawit” paparnya.

Sementara itu, hampir di semua hamparan sawah yang tersisa dan eks hamparan sawah terlihat bangunan sarana irigasi, yang dipastikan bernilai milyaran rupiah, terkesan mubajir dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Bahkan di beberapa titik terlihat bangunan sekat air yang hingga berkarat namun belum pernah dialiri air sama sekali.
“ Kami tidak tau, siapa yang membuat usulan pembangunan sarana irigasi ini, yang pasti kami sebagai petani merasa lahan pertanian kami makin terancam tiap tahun” ungkap Karno, 53 tahun, penduduk Desa Sei jawi jawi