Di seberang sana, ada ratusan hektar lahan yang dulunya adalah sawah dan kini sebagian telah berubah menjadi kebun kelapa sawit. Awal agustus setiap tahunnya, ratusan orang hilir mudik menyeberangi hilir sungai bilah, dengan transportasi boat berkapasitas 25 -30 orang penumpang.Mereka adalah para petani yang sampai saat ini masih mempertahankan lahannya sebagai lahan bertanaman padi dan mereka adalah orang orang yang konsisten menggantungkan hidupnya pada ketersediaan air. Baik air di areal persawahan mereka, juga air di hilir sungai bilah yang semakin hari kian dangkal.
selain para petani padi, hilir sungai bilah ini juga menjadi satu satunya akses terdekat yang menghantarkan hasil pertanian berupa kelapa, kelapa sawit dan aneka hasil pertanian lainnya dari seberang jawi jawi, untuk kemudian dipasarkan keluar daerah. Tatkala air kian surut, tangkahan kian lapuk, masyarakat pesisir disini tak kunjung mendapat tawaran mau melalui jalur yang mana. masih saja mempertaruhkan jalan rezeki mereka melalui arus hilir sungai bilah ini.
PESISIR LABUHANBATU
Membawa Khabar dari Pesisir Labuhanbatu
Sabtu, 31 Maret 2012
Kamis, 29 Maret 2012
IRIGASI BURUK, SAWAH BERUBAH FUNGSI JADI KEBUN SAWIT
Ratusan hektar sawah yang beberapa tahun lalu
menghampar hijau di areal pertanian Desa Meranti Paham, Desa Tanjung Sarang
Elang dan Desa Sei jawi jawi, Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, kini
tak lagi terlihat. Terpuruknya harga gabah dari tahun ke tahun di tingkat
petani, diduga sebagai salah satu penyebab pupusnya minat petani untuk terus
menanami lahan sawah tadah hujannya dengan tanaman padi. Kondisi sawah tadah
hujan, yang hanya dapat diolah setahun
sekali sebagai lahan penanaman padi ini
semakin diperparah dengan tidak adanya pembangunan sarana irigasi yang baik
dari pemerintah.
Dari tahun ketahun selalu saja
ada proyek pembangunan sarana irigasi, baik berupa pembangunan saluran primer,
saluran skunder maupun sekat air, namun
pembangunan tersebut kerap tidak menolong sama sekali bagi usaha pertanian
masyarakat. Hal ini disebabkan karena Pembangunan yang diduga asal-asalan, asal
buat dan asal jadi.
Pono, 43 tahun, Petani asal Desa
Meranti paham menuturkan bahwa sejak empat tahun lalu dia telah Merubah
sawahnya menjadi kebun kelapa sawit. Masih menurutnya, Berkebun kelapa sawit
jauh lebih menguntungkan jika dibanding dengan bertanam padi. “ Karena
ketersediaan air yang tak bisa dipastikan, kami sering gagal panen kalau
bertanam padi, tapi kalau kelapa sawit, kami bisa panen sebulan dua kali “
ucapnya.
Kepala Desa Meranti Paham, S. Sopiyan, membenarkan adanya pengalihan fungsi lahan
dari lahan pertanian padi menjadi perkebunan kelapa sawit di desanya. “ Kita
selalu sarankan kepada warga untuk tidak merubah fungsi lahannya, tapi kita
bisa memaksa mereka untuk bertahan bertanam padi, karena dalam perhitungan
ekonomi warga, mereka lebih untung jika bertanam kelapa sawit” paparnya.
Sementara itu, hampir di semua
hamparan sawah yang tersisa dan eks hamparan sawah terlihat bangunan sarana
irigasi, yang dipastikan bernilai milyaran rupiah, terkesan mubajir dan tidak
berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan
di beberapa titik terlihat bangunan sekat air yang hingga berkarat namun belum
pernah dialiri air sama sekali.
“ Kami tidak tau, siapa yang membuat usulan
pembangunan sarana irigasi ini, yang pasti kami sebagai petani merasa lahan
pertanian kami makin terancam tiap tahun” ungkap Karno, 53 tahun, penduduk Desa
Sei jawi jawi
Langganan:
Postingan (Atom)
