Kamis, 29 Maret 2012

IRIGASI BURUK, SAWAH BERUBAH FUNGSI JADI KEBUN SAWIT


Ratusan  hektar sawah yang beberapa tahun lalu menghampar hijau di areal pertanian Desa Meranti Paham, Desa Tanjung Sarang Elang dan Desa Sei jawi jawi, Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, kini tak lagi terlihat. Terpuruknya harga gabah dari tahun ke tahun di tingkat petani, diduga sebagai salah satu penyebab pupusnya minat petani untuk terus menanami lahan sawah tadah hujannya dengan tanaman padi. Kondisi sawah tadah hujan,  yang hanya dapat diolah setahun sekali sebagai lahan penanaman padi  ini semakin diperparah dengan tidak adanya pembangunan sarana irigasi yang baik dari pemerintah.
Dari tahun ketahun selalu saja ada proyek pembangunan sarana irigasi, baik berupa pembangunan saluran primer, saluran skunder maupun  sekat air, namun pembangunan tersebut kerap tidak menolong sama sekali bagi usaha pertanian masyarakat. Hal ini disebabkan karena Pembangunan yang diduga asal-asalan, asal buat dan asal jadi.

Pono, 43 tahun, Petani asal Desa Meranti paham menuturkan bahwa sejak empat tahun lalu dia telah Merubah sawahnya menjadi kebun kelapa sawit. Masih menurutnya, Berkebun kelapa sawit jauh lebih menguntungkan jika dibanding dengan bertanam padi. “ Karena ketersediaan air yang tak bisa dipastikan, kami sering gagal panen kalau bertanam padi, tapi kalau kelapa sawit, kami bisa panen sebulan dua kali “ ucapnya.

Kepala Desa Meranti Paham, S. Sopiyan, membenarkan adanya pengalihan fungsi lahan dari lahan pertanian padi menjadi perkebunan kelapa sawit di desanya. “ Kita selalu sarankan kepada warga untuk tidak merubah fungsi lahannya, tapi kita bisa memaksa mereka untuk bertahan bertanam padi, karena dalam perhitungan ekonomi warga, mereka lebih untung jika bertanam kelapa sawit” paparnya.

Sementara itu, hampir di semua hamparan sawah yang tersisa dan eks hamparan sawah terlihat bangunan sarana irigasi, yang dipastikan bernilai milyaran rupiah, terkesan mubajir dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Bahkan di beberapa titik terlihat bangunan sekat air yang hingga berkarat namun belum pernah dialiri air sama sekali.
“ Kami tidak tau, siapa yang membuat usulan pembangunan sarana irigasi ini, yang pasti kami sebagai petani merasa lahan pertanian kami makin terancam tiap tahun” ungkap Karno, 53 tahun, penduduk Desa Sei jawi jawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar